Rabu, 11 Oktober 2017

Pengalaman Menyusui pada Ibu Bekerja Penyandang Diabetes

Menyusui itu memang sebuah proses yang indah dan menyenangkan, namun penuh perjuangan. Bagi seorang working mother, tantangan untuk dapat memberikan ASI Eksklusif dan melanjutkan pemberian ASI hingga sang buah hati berusia 2 tahun, tidaklah mudah.  Saya pernah menjalani ini dan saya hampir saja menyerah ketika si kecil berusia 4 bulan. Bukan hanya memikirkan ASI Perahan (ASIP) yang harus cukup untuk kebutuhan si kecil, tetapi sebagai seorang diabetesi, juga harus terus mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil. Harus tetap konsisten memerah ASI meskipun di kantor lagi hectic, tidak ada alasan untuk tidak pumping. Maklum, saya ini termasuk emak-emak yang kejar tayang stok ASIP-nya. Jadi, kalau jadwal pumping kacau, bisa bahaya! bisa-bisa stok ASIP ga cukup!

Saya pernah bertanya kepada dokter anak yang biasa menangani Delisha (anak pertama kami), "Dok, apa saya tetap bisa menyusui?" dan kata beliau, ibu dengan diabetes tetap dapat memberikan ASI dan harus tetap menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Alhamdulillah...jadi makin semangat ciiinnnn.. pumpingnya!!!

Artikel mengenai Aspek Hormonal Air Susu Ibu dalam website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyebutkan bahwa ASI mengandung hormon dan faktor pertumbuhan yang berperan dalam proses pematangan saluran cerna terutama fungsi kekebalan dan ketahanan terhadap penyakit. Pemberian ASI eksklusif bersifat protektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus tipe I dan 2, serta obesitas. Ibu dengan penyakit endokrin relatif aman untuk menyusui (sumber : Aspek Hormonal Air Susu Ibu ). Jadi, selama tidak ada halangan untuk memberikan ASI (tidak ada indikasi medis yang membahayakan ibu maupun bayi), sudah sepatutnya memang ASI ini diperjuangkan. 

Delisha lahir melalui operasi caesar dengan berat badan 3,6 kg (gede yaaa mak). Salah satu resiko ibu hamil dengan diabetes memang melahirkan bayi besar (giant baby). Pada trimester akhir kehamilan, gula darah saya kurang terkontrol, cenderung tinggi.  Alhamdulillah, proses menyusui di awal kelahiran Delisha berjalan lancar.  Hari terakhir di rumah sakit, saya mendapat kabar hasil lab Delisha menunjukkan bilirubin yang sedikit tinggi (12 mg/dl) dan dokter menyarankan agar Delisha disinar untuk menurunkan kadar bilirubinnya.  Akhirnya saya pulang ke rumah, sementara Delisha masih di rumah sakit untuk terapi sinar biru (hiks..hiks..sedih banggeeeettt). Disinilah pertama kali saya memerah ASI.

Pertama kali memerah ASI, saya menggunakan alat perah fasilitas dari rumah sakit. Kemudian saya lanjutkan memerah ASI dirumah, lalu kemudian hasil ASIP yang telah dikumpulkan dikirim ke rumah sakit (yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah) selama Delisha ada disana.  Dokter memberitahu bahwa selama disinar, bayi akan lebih sering haus karena panas dari sinar tersebut.  Apabila ternyata ASIP yang saya berikan kurang, maka saya setuju agar Delisha mendapatkan tambahan susu formula (sufor) untuk menghindari dehidrasi. 

Jadi sebetulnya, di awal kelahirannya, Delisha sempat mendapatkan sufor. Sedih juga sih, tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan ASIP yang banyak.  Untungnya Delisha tak lama disinar, setelah 1 hari menjalani terapi sinar, Delisha diperbolehkan pulang.
Saya mendapat cuti hamil 1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan pasca melahirkan. Jadi, selama 2 bulan saya stok ASIP dan terkumpul sekitar 60 botol (1 botol 100 ml). Banyak loh tantangan utk menyetok ASIP! salah satunya rasa lelah akibat kurang tidur selalu dijadikan alasan untuk menunda-nunda pumping.

Karena ngASI ini sudah jadi prioritas saya, maka segala resiko harus siap dijalani.  Tantangan yang dihadapi ibu bekerja penyandang diabetes, yang sangat memberikan kesan adalah adanya resiko hipoglikemia saat menyusui, Delisha alergi protein susu sapi, stok ASIP yang kejar tayang, dan gejala bingung puting saat Delisha berusia 4 bulan.

1. Resiko Hipoglikemia Saat Menyusui

Pengalaman saya, menyusui ataupun memerah ASI dapat memberikan efek penurunan kadar gula darah. Jadi, saat menyusui atau memerah ASI, perlu diwaspadai terjadinya hipoglikemia (kadar gula darah rendah dibawah normal). Gejala yang ditunjukkan antara lain pandangan mulai gelap, badan gemetar, keluar keringat dingin, tampak linglung, dsb. Karena itu, penting untuk selalu sedia permen ataupun makanan/minuman manis lainnya selama menyusui ataupun saat pumping.  Gak lucu kan... kalo pingsan saat menyusui atau saat pumping...😟

2. Si Kecil Alergi Protein Susu Sapi

Saat usia Delisha belum genap 3 bulan, ada sesuatu yang mengkhawatirkan saya yaitu sudah 2x BAB Delisha ada lendir-lendir darah. Esok harinya saya membawa Delisha ke rumah sakit. Sayangnya, dokter yang biasa menangani Delisha sedang cuti Umroh. Padahal, saya dan suami sudah merasa cocok dengan dokter tersebut. Akhirnya kami, memilih dokter yang ada jadwal praktik saat itu. Delisha diberi resep obat, ada 3 jenis obat dan salah satunya adalah antibiotik. Sesampai di rumah, saya terus memandangi antibiotik itu. Lalu saya minta izin ke suami untuk tidak memberikan antibiotik dan obat-obatan lainnya, ada keyakinan dalam diri saya bahwa Delisha tidak perlu diberi antibiotik.

Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke rumah sakit karena dokter yang biasa menangani Delisha sudah praktik (dr. Rianita Syamsu, Sp.A). Ternyata firasat saya betul, Delisha tidak perlu antibiotik. Menurut dr. Rianita, Delisha alergi protein susu sapi. Dokter menyarankan agar saya menghindari susu sapi beserta turunannya. Whoaaa!!! "beserta turunannya!!!" Apa saya sanggup menyatakan selamat tinggal kepada kue kering, es krim, roti, kue basah, yoghurt, daannn yang sedap-sedap lainnya??? Alamaaaakkk semuanya enak-enak😍


buang air besar pada bayi dengan lendir darah
BAB dengan Lendir Darah (Dokumentasi Pribadi)
Memang saya perhatikan, Delisha tergolong cukup sering BAB, selain itu Delisha juga sering gumoh mengeluarkan kembali ASI yang diminumnya. Dampaknya, pertambahan berat badan Delisha cenderung minim, pernah dalam satu bulan berat badan Delisha hanya naik 135 gram.  Ketika saya stop protein susu sapi, berat badan Delisha naik cukup bagus dan frekuensi BAB-nya berkurang.  Namun, ketika saya mulai curi-curi makan kue, Delisha mulai lagi menunjukkan gejala alerginya. Karena ASI adalah prioritas saya, jadi yaaaa saya STOP protein susu sapi. Saya hanya makan nasi, lauk pauk, dan buah.  Tutup mata aja sama snack box yang disuguhin waktu rapat..hiks... (makanan dan minuman yang dipantang itu saat ada di hadapan seakan menari-nari minta dikunyah dan ditelan😑) Dan ini berlangsung hingga Desliha berusia 13 bulan. Ketika Delisha berusia 12 bulan, saya pernah coba makan yang mengandung protein susu sapi dan Delisha masih menunjukkan gejala alergi.

Lalu yang jadi kekhawatiran saya adalah "Bagaimana dengan stok ASIP selama kurang lebih 3 bulan ke belakang????? itu kan diperah saat saya masih mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung protein susu sapi????" Bismillah... saya tetap memberikannya kepada Delisha. Memang sih, ketika Delisha masih diberikan ASIP tersebut, kenaikan berat badannya masih cenderung minim. Tetapi saya yakin ASI tetap yang terbaik, dan saya tak akan tega jika mengingat perjuangan mengumpulkannya. Jadi, saya tetap teruskan pemberian ASI untuk Delisha. Semangat ngASI!!!

3. Stok ASIP Kejar Tayang

"De, nyusunya kuat banget, habis 7 botol" Ibu saya memberikan laporan saat saya tiba di rumah sepulang kerja. Whuaaaaa... saya salah prediksi!!! Saya sampaikan ke Ibu dan Bude (panggilan pengasuh Delisha yang juga dulunya sempat mengasuh saya saat kecil), nanti selama ditinggal kerja (kurang lebih dari jam 7 pagi s/d 5 sore) Delisha dikasih 5 botol ASI (1 botol isi 100 ml) artinya Delisha diberi ASI setiap 2 jam sekali. Karena hasil penelitian kecil-kecilan saya kepada teman-teman, rata-rata kebutuhan ASI anaknya selama ditinggal kerja (10 jam) yaa segitu 5 botol.  Lah.. ini Delisha 7 botol, berarti selisih 200 ml.  Kalau saya pulang terlambat sedikit, jadi 8 botol (sambil garuk-garuk kepala😂).

Maka dari itu, saya harus konsisten pumping! jangan sampai terlewat jadwal pumpingnya karena stok ASIP yang kejar tayang.  Selama di kantor, saya 3x pumping: sekitar jam setengah 10, jam istirahat siang, dan sore menjelang pulang.  Kalau saya harus pulang telat dari kantor, maka ada ekstra tambahan pumping 1x lagi di sore hari.  Nanti, setelah sampai rumah, taruh tas, cuci tangan (ga pake mandi dulu😄) langsung pumping lagi. ASI itu unik, semakin sering dikeluarkan, maka produksinya akan semakin banyak. Saya memang sengaja mengosongkan payudara sebelum menyusui Delisha saat tiba di rumah, tujuannya agar semakin banyak ASI yang diproduksi. Pumping dilanjutkan kembali saat tengah malam dan pagi dini hari.  Begitu rutinitas setiap hari sampai Delisha berusia 6 bulan. Yaahh beginilah kalau kejar tayang mak.....

Selama memberikan ASI Eksklusif ini, berat badan saya turun drastis. Saat hamil, berat badan naik 12 kg, lalu saat menyusui turun hingga 16 kg.  Jadi, dengan tinggi badan 165 cm berat badan saya saat menyusui sekitar 46 kg, lebih kurus dari sebelum hamil (pada dasarnya memang saya kurus pisan). Tetapi kemudian berat badan berangsur-angsur naik setelah memperkenalkan Delisha dengan MPASI, karena kebutuhan ASI yang berkurang. Jadi, kalau mayoritas ibu-ibu senang bisa turun berat badan yang banyaaaak saat menyusui, kalau saya malah sebaliknya😁.

4. Gejala Bingung Puting

Ketika Delisha berusia 4 bulan, stok ASIP saya hanya hitungan jari. Ditambah lagi, Delisha tampaknya mulai menunjukkan gejala bingung puting.  Sedihnya lagi, hasil perahan juga semakin sedikit. Wah.. pada waktu itu saya betul-betul hampir menyerah. Saya tau kalau penyebab bingung puting adalah karena menggunakan dot untuk memberikan ASIP pada Delisha. Tapi, saya tak tega kalau harus merepotkan Ibu saya dan Bude dengan memberikan ASIP melalui media lain. Saya sudah berusaha memperkenalkan media lain (sepertinya saya kurang sungguh-sungguh) dan lebih memilih menggunakan dot yang memang lebih praktis.

Delisha mengenal dot saat ia baru berusia beberapa hari saat disinar di rumah sakit. Setelah itu, ia hanya menyusui langsung tanpa menggunakan dot selama saya cuti melahirkan.  Saat ia berusia 2 bulan dan saya kembali bekerja, Delisha mulai minum ASI melalui dot kembali. Memang tidak mudah memperkenalkannya dengan sendok, gelas, ataupun pipet untuk minum ASIP, selain memang saya juga tidak sungguh-sungguh memperkenalkannya. 

Saya masih ingin berjuang untuk ASI Eksklusifnya Delisha (yaaahh... walaupun sebenarnya sudah pernah dikasih sufor saat baru lahir). Sayang bangeeett kalau harus berhenti di usianya yang 4 bulan. Keras kepala emang diperlukan untuk keberhasilan ASI Eksklusif. Karena saya tak mau merepotkan Ibu saya dan Bude dengan memberikan ASIP menggunakan media lain selain dot, maka saya harus mencari cara lain.

Saya putuskan untuk ambil jatah cuti tahunan. Selama cuti, saya menyusui langung, tak ada dot selama cuti! Setiap 2 jam sekali, ASI selalu diperah bahkan saat tengah malam dan pagi dini hari. Jangan sampai jatah cuti terbuang sia-sia.  Tetes demi tetes ASI terus dikumpulkan untuk menambah stok ASIP di kulkas.  Atas dorongan dari suami saya (ini suami yang ngajak loh!💓), saya bersama suami menemui konselor laktasi yg tak lain adalah istri dari bosnya suami di kantor.  Disitu saya mendapat banyak masukan terutama mengenai manfaat ASI yang luar biasa, salah satunya mengenai pentingnya ASI bagi kekebalan tubuh anak. Support dari orang-orang terdekat emang sangaaat mempengaruhi keberhasilan ASI Eksklusif loh!

Alhamdulillah... masa-masa genting bingung puting ini terlewati juga... dan akhirnyaaa yang ditunggu-tunggu yaitu memperkenalkan MPASI ketika Delisha berusia 6 bulan. Saya bisa sedikit bernafas lega, karena artinya kebutuhan ASI semakin berkurang karena sudah dapat tambahan MPASI.  Apalagi ketika sudah menginjak usia 1 tahun, pemberian ASI dengan cara menyusui langsung saat Ibu berada di rumah, sudah cukup memenuhi kebutuhan ASI si kecil (begitu informasi yang saya dapat saat mengikuti kelas Edukasi MPASI). Jadi, kalau memang tak ada stok ASIP saat ibu bekerja, tak masalah karena kebutuhan ASI si kecil setelah berusia 1 tahun adalah 30% (saat < 6 bulan kebutuhannya 100%). Pemberian ASI pun terus dilanjutkan hingga Delisha disapih pada usia 25 bulan.

Yuk, ibu-ibu semangat ngASI-nya ya!

Senin, 25 September 2017

Pengalaman Hamil dengan Diabetes

Hamil dengan Insulin
Hamil dengan Diabetes

Wanita dan diabetes memang perbincangan yang menarik.  Di komunitas Young Diabetic, topik ini termasuk paling seru dibahas dan menjadi diskusi yang panjaaaang.... apalagi kalau sudah membahas soal hamil...wah diskusi jadi ramai. Sepengetahuan saya, hamil dengan diabetes itu bisa saja dialami pada dua kondisi:
  1. Sudah terdiagnosa Diabetes Mellitus (DM) sebelum hamil. Ini biasanya dialami oleh penyandang diabetes yang terdiagnosa di usia muda (anak-anak hingga dewasa muda), baik DM Tipe 1 maupun DM Tipe 2.
  2. Terdiagnosa DM pada saat hamil, yang disebut sebagai Diabetes Gestasional. Gula darah tinggi baru terdeteksi pada saat hamil, dan biasanya setelah melahirkan kadar gula darah dapat kembali normal tetapi memiliki resiko tinggi untuk terkena diabetes ke depannya.
Saya sendiri memiliki pengalaman hamil dengan kondisi nomor 1. Artinya, saya sudah terdiagnosa diabetes sebelum hamil. Saat hamil Delisha (anak pertama kami), Alhamdulillah segalanya berjalan sesuai dengan harapan, gula darah cenderung dapat terkontrol dengan baik (kecuali pada trimester akhir, gula darah suka ajaib😂 naik turun gak karuan). Sementara pada kehamilan berikutnya, saya mengalami keguguran, yang salah satu penyebabnya karena gula darah sulit terkontrol sejak awal kehamilan.

Sebagai penyandang diabetes di usia muda (dan masih single), wajar rasanya ketika muncul kekhawatiran "gimana yaa nanti kalau hamil??" atau "aman ga yaa insulin untuk ibu hamil??". Ternyata, teteeuppp kunci utamanya: gula darah terkontrol. Dan tak perlu khawatir dengan insulin, karena aman untuk ibu hamil. Bahkan, insulin merupakan obat yang paling aman, lho! Hanya saja memang dosisnya perlu disesuaikan. Saya pernah membaca bahwa obat oral diabetes tidak dianjurkan untuk ibu hamil dengan diabetes. Jadi memang untuk ibu hamil dengan diabetes akan diarahkan pengobatannya dengan insulin. 

Sebelum menikah, saya banyak mencari informasi terkait kehamilan dengan diabetes. Ketika membaca resiko-resiko kehamilan dengan diabetes, lah kok saya malah jadi tambah galau😁.  Karena itu, saya betul-betul ingin mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa poin penting yang saya catat dari pengalaman hamil Delisha, yang saya jadikan patokan (target) untuk bisa dilakukan di kehamilan selanjutnya (meskipun pada kenyataannya saya lengah😢).

1. Masa pra hamil : gula darah terkontrol dengan baik

Ceritanya, saya dilamar sekitar 6 bulan sebelum hari pernikahan. Nah, semenjak itu saya lebih ketat mengontrol kadar gula darah saya. Saya pun berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam (endokrin dewasa). Dokter mengatakan agar dapat melakukan program kehamilan, maka gula darah harus terkontrol dengan baik dan ditunjukkan dengan HbA1c <6,5%. Jadi, masa-masa pra pernikahan, bukan hanya kebaya, catering, kostum keluarga, gedung yang harus diurus, tetapi harus fokus juga dengan kadar gula darah hehe.. dan Alhamdulillah, HbA1c saya mencapai target (saya lupa tepatnya berapa, kalau ga salah di angka 6%). Jadi, saya bisa langsung program hamil setelah berstatus sebagai istri, yeaaay!

2. Konsultasi ke ahli gizi

Tiga bulan setelah menikah, saya dinyatakan positif hamil. Lalu oleh dokter penyakit dalam, saya disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi karena kebutuhan kalori harian menjadi bertambah saat hamil. Ahli gizi akan mengarahkan makanan yang sebaiknya dikonsumsi berikut dengan takaran jumlahnya.
 
3. Kadar gula darah terkontrol selama hamil

Setelah positif hamil, tugas berikutnya adalah menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Sebetulnya agak sulit juga kalau selama hamil kepingin makan ini itu, tapi demi si buah hati, cobalah diatur agar jumlahnya ga berlebihan.  Bagi saya sendiri, selama hamil paling sedikit gula darah dicek 4x dalam sehari : bangun tidur, sebelum makan siang, dan malam hari.  Ketika hamil Delisha, saya agak keteteran menjaga gula darah pada trimester akhir. Kalau ditanya penyebabnya? entahlah, saya tak tau pasti, mungkin karena hormon atau karena rasa lapar yang lebih di trimester akhir namun tidak diimbangi dengan dosis insulin yang tepat. Karena pada trimester akhir ini, saya membutuhkan dosis insulin 2x lipat dibandingkan di awal kehamilan.

4. Pemeriksaan rutin dengan dokter penyakit dalam dan dokter kandungan/bidan

Selama hamil, pemeriksaan rutin tetap dilakukan tidak hanya ke dokter kandungan/bidan, tetapi juga ke dokter spesialis penyakit dalam. Awalnya saya berkonsultasi dengan dokter endokrin dewasa di RS Prikasih (Pondok Labu) dan dokter kandungan di RS Hasanah Graha Afiah (Depok). Tetapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk kontrol pada satu atap rumah sakit saja, dan saya memutuskan untuk kontrol di RS Hasanah Graha Afiah. Pertimbangannya, karena dekat rumah dan agar saat persalinan nantinya dokter penyakit dalam dan dokter kandungan sama-sama sudah mengetahui kondisi saya. Saat saya mengutarakan keinginan saya untuk pindah kontrol ke RS HGA, dokter penyakit dalam berpesan untuk mengecek kadar gula darah bayi saat lahir nanti. Pada kondisi ibu dengan diabetes, ada resiko hipoglikemia (gula darah rendah di bawah batas normal) pada bayi jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah bayi.
5. Ikhtiar dan Tawakal

Nah, yang terakhir ini yang paling penting menurut saya yaitu sertai ikhtiar dengan tawakal.  Senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran selama hamil dan proses persalinan, serta dikaruniai bayi yang sehat sempurna.  Segala kemampuan dan potensi yang sudah dikerahkan, kembalikan segalanya kepada Allah SWT. Bersyukur ketika hamil hingga persalinan diberi kelancaran dan kemudahan, namun ketika Allah berkehendak lain, percaya bahwa rencana Allah adalah yang terbaik. Seperti saat keguguran, mungkin memang belum saatnya Delisha punya adik saat itu.

Kalau Delisha sendiri lahir melalui operasi caesar. Awalnya saya kekeuh ingin lahiran normal, tapi menurut dokter, panggul saya sempit dan sebetulnya sudah ada pembukaan tapi bayinya tidak turun-turun. Di tengah kegalauan (karena masih berharap bisa lahiran normal), suami  meyakinkan dan menguatkan saya untuk terima saran dokter. Suami bilang hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya, tak masalah dengan operasi caesar (so sweeeeeeettt hehe). Dua hari sebelum jadwal caesar, saya mengalami pecah ketuban sehingga persalinan menjadi lebih awal dari rencana. Tapi bukan berarti ibu hamil dengan diabetes tak bisa lahiran normal yaa... bisa banget. 

Setelah pengalaman hamil dengan diabetes, saya juga ingin berbagi pengalaman memberikan ASI. Karena Alhamdulillah (lagi-lagi bersyukur), Delisha mendapatkan ASI hingga usia 25 bulan. Kalau mengingat saat pemberian ASI Eksklusif (hingga usia 6 bulan), apalagi saya sebagai working mom, memang perjuangannya cukup berat (sampai ada drama nangis bombay hehehehe). Insya Allah, dibahas di tulisan selanjutnya yaa... 😀. 



Sabtu, 12 Agustus 2017

Gigi Susu Bolong, Perlu Ditambal???


Saya baru menyadari kalau Delisha (anak pertama kami) yang saat itu berusia 2 tahun, giginya banyak yang bolong. Meskipun baru berusia 2 tahun, tapi giginya ada 6 yang bolong (3 sebelah kiri, 2 sebelah kanan, 1 di bagian depan) 😟  Sepertinya kesalahan terjadi bukan pada anaknya tapi pada emaknya yang males ajak anaknya sikat gigi sebelum tidur.

Awalnya, saya masih rajin sikat gigi Delisha sebelum tidur (tanpa pasta gigi karena Delisha belum bisa kumur-kumur) tetapi ternyata tengah malam dia terbangun dan minta susu UHT. Akhirnyaaaaa saya menganggap percuma aja ngajak sikat gigi sebelum tidur kalau nanti beberapa jam lagi dia minum susu dan emaknya yang lagi super ngantuk males nyikatin gigi tengah malem. Selain itu juga anaknya minum susu sambil merem... yaa sudahlah...

Kalau ditanya, "anaknya suka makan coklat kali?"  Hmm.. Delisha ini Papahnya banget, lebih suka rasa buah-buahan ketimbang rasa cokelat. Cokelat batanganpun dia kurang suka, persis Papahnya!
Pertanyaan lainnya, "anaknya suka makan permen?" Nah.. ini mah emaknya galak banget soal ini. Maklum yak..emaknya ini penyandang diabetes, jadiii urusan permen ataupun softdrink emang rada galak. Kadang Delisha suka makan permen tapi masih tergolong jarang. 

Awalnya saya ragu apakah harus ditambal atau tidak? karena giginya masih gigi susu yang toh nantinya juga akan ganti dengan gigi tetap. Tiba-tiba saya teringat keponakan saya yang kira-kira saat ia berusia 5 tahun mengeluhkan giginya yang sakit. Keponakan saya ini takut banget ke dokter gigi, jadinya dia lebih memilih menahan rasa sakit pada giginya itu ketimbang pergi ke dokter gigi. Ga tega juga liatnya.

Belajar dari pengalaman keponakan saya itu, saya ga mau menunggu Delisha mengeluh sakit pada giginya. Saya mendapat saran dari seorang dokter gigi, sebaiknya memang gigi Delisha ditambal meskipun usianya baru 2 tahun karena lapisan email pada gigi susu itu lebih tipis dari gigi tetap, jadi biasanya bolong mudah sekali membesar. Karena itulah, saya mencari cara agar Delisha mau menambal giginya dan ga takut pergi ke dokter gigi. Alhamdulillah... cara ini berhasil! Begini beberapa cara yang saya terapkan kepada Delisha.
1.  Agar terbiasa dan tidak takut, ajak anak ke dokter gigi terlebih dahulu sebagai perkenalan
Kebetulan saya dan neneknya Delisha ada keperluan ke dokter gigi untuk tambal gigi. Sengaja saya ajak Delisha agar dia melihat segala prosesnya. Dia tidak tampak takut, malah dia mengangis karena tidak ikut diperiksa😁
2.  Tunjukkan bahwa ke dokter gigi itu menyenangkan



Ketika saya dan neneknya Delisha diperiksa, kami tidak menampakkan rasa takut dan sakit. Saya juga menjelaskan kepada Delisha pentingnya memeriksakan gigi ke dokter gigi dan Alhamdulillah Delisha bisa mengerti.

3.  Hindari mengajak ke dokter ketika anak mengantuk

Untuk anak seusia Delisha, kalau sudah ngantuk.. duuh... bener-bener rungsing! semua serba salah. Bisa-bisa nanti dia rungsing di klinik atau malah di ruang parktik dokter, bahaya kan! Jadi, saya usahakan untuk mengatur pertemuan dengan dokter di waktu-waktu Delisha bermain dan bukan waktunya tidur.
4.  Pangku anak saat proses penambalan

Kalau ini saya juga baru tau setelah masuk ke ruang praktik. Dokter menyarankan agak Delisha dipangku agar dia lebih nyaman. Ternyata betul, awalnya ketika Delisha tidak dipangku, dia kelihatan bingung dan tidak mau duduk di posisi pasien. Namun, setelah dipangku dia tampak santai dan menurut saja apa perintah dokter.  Selain itu, saya juga bisa sambil memegang kedua tangannya.
5.  Ajak anak jalan-jalan sebentar setelah tambal gigi

Setelah tambal gigi, dokter akan menyarankan agar tidak makan dan minum selama 1 jam, atau tidak makan selama 2 jam namun diperbolehkan minum. Nah... biasanya untuk killing time, saya ajak Delisha menghabiskan waktu di minimarket sambil memilih-milih makanan yang dia suka. Lumayan lah.. bisa sekitar 15 menit di minimarket hehe...

6.  Beri hadiah yang dia suka 

Bolehlah saya memberi reward kepada Delisha atas sikap dia yang kooperatif selama tambal gigi.  Rewardnya yaa.. sekalian jalan-jalan ke minimarket itu, biasanya Delisha akan minta jajanan yang biasanya jarang saya kasih.. hehehe.. seperti jajanan gurih-gurih kriuk gitu.
7.  Jangan tunggu lubang pada gigi semakin parah

Jadi, kata dokter, untuk menambal gigi anak-anak sebisa mungkin tidak dilakukan bor gigi (apa ya istilah medisnya saya ga tau hehe). Tapi kalau terpaksa karena sudah kena syaraf, ya mau tidak mau dilakukan pengeboran. Berdasrakan pengalaman pribadi, kalau sudah kena syaraf itu pasti terasa sakit. Nah.. kalau terjadi pada anak kecil takutnya mereka akan kapok dan ga mau balik ke dokter gigi lagi. Jadi, sebisa mungkin kalau emmang ada lubang yang harus ditambal segera saja ke dokter gigi jangan menunggu parah. 
Nah.. itu tadi beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi saya. Berhubung kami ke dokter gigi dengan memanfaatkan BPJS, jadi kami dalam sehari hanya dapat dilakukan satu tindakan. Untuk enam lubang pada gigi susu Delisha artinya kami harus enam kali ke dokter gigi (seminggu sekali). Alhamdulillah, sejauh ini sudah empat lubang yang ditambal dan Delisha konsisten kooperatif selama tambal gigi. Pernah juga sekali ada gigi yang dibor, dan dia tampak biasa saja, gak sakit katanya!😄





Jumat, 11 Agustus 2017

Woody Super Ice Cream

pintu masuk woody super ice cream
Pintu masuk Woody Super Ice Cream

Karena 2 hari belakangan ini saya suka galak sama Kaka Sasha, jadilah saya merencanakan kejutan misteri untuknya sebagai tanda permintaan maaf.
"Ayo bun buka kejutan misterinya.." bujuk Sasha dengan gembira.
"Eeh.. kejutan misterinya bukan kayak gitu, tapi kita nanti mau pergi ke suatu tempat yang asyik." jawab saya.

Sebenarnya kejutan misterinya itu adalah saya mau ajak Kaka Sasha bermain ke Woody Super Ice Cream. Woody ini adalah toko es krim yang dilengkapi dengan arena bermain anak. Dulu, pernah menjadi lokasi bermain paling hits di era 80-an. Yang bikin seru, arena bermain anaknya ini cukup luas dan GRATIS bu.. ibu...... (cuma es krimnya tetep bayar yaa hehe). 



Saya mencari tau lewat penelusuran google, apakah Woody Super Ice Cream buka hari ini dan buka dari jam berapa. Sayang, informasi tentang lokasi arena bermain anak ini sepertinya kurang update. Beruntunglah, tetangga depan rumah kami belum lama ini kesana dan katanya setiap hari buka kok. Yeaaayy!! Let's go!

Berikut adalah informasi mengenai Woody Super Ice Cream ini :
Alamat               : Jl. Raya Bogor (Dekat Simpangan Depok), Sukamaju, Cilodong, Depok
Jam Operasional : Setiap Hari dari Jam 08.30 s/d 17.00
Tiket Masuk       : Gratis 😍

Saya sarankan bawa bekal minum dan cemilan dari rumah. Lebih seru datangnya weekday aja karena sepi dan bisa bebas bermain ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dsb. Kalau berkunjung di weekend atau hari libur lebaran (dan tanggal merah lainnya) biasanya ramai pengunjung jadi bakalan crowded. Arena bermain disini juga dilengkapi dengan gazebo, jadi bisa aja santai-santai juga sambil buka bekal. Daaann yang terpenting anak selalu dalam pengawasan ya bun...
arena bermain woody super ice cream
Banyak pohon besar yang membuat rindang sebagian arena
counter es krim woody
Lokasi counter es krim berada dekat pintu masuk
Patung icon woody super ice cream
Foto di Woody Super Ice Cream Icon
Wahana terfavorit Kaka Sasha :)
Bukan jerapah beneran😁
Diajak pulang pun masih minta main lagi
Nah.. gimana??gak kalah seru dengan arena bermain di mall kan? Woody Super Ice Cream ini bisa jadi alternatif pilihan lokasi bermain bersama anak. Yuk aah yang mau ajak anak-anak bermain tanpa membebani kantong... Hidup HEMAT!!!!😀

Oh yaa... untuk emak-emak istimewa kayak saya ini (emak-emak penyandang diabetes) jangan kalap yaaa ngeliat gambar-gambar es krim. Nemenin anak bemain disini malah seharusnya bisa jadi aktivitas fisik yang Insya Allah menyehatkan (karena lari sana sini ngejar anak dong bu..ibu...) 😌

Tetap sehat dan tetap semangat!!!😊

Rabu, 09 Agustus 2017

Berkenalan dengan Insulin

"Jangan pake insulin nanti ketergantungan loh!"
"Kalau pakai insulin nanti pankreasnya manja dan gak mampu memproduksi insulin lagi."
"Si itu... sembuh sakit gulanya.. pake daun kelor"
"Kalau sakit gula ya udah stop aja makan gula, beres kan!

Ini hanya sebagian dari komentar orang ketika tau bahwa saya adalah penyandang diabetes dan rutin injeksi insulin 4x sehari.  Cuma komentar yang terakhir itu bener-bener ngajak berantem hehehe... (nasi yang kita makan pun akan diolah menjadi gula di dalam tubuh kan?)

Memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan injeksi insulin setiap hari memang ga mudah! Saya sempat menolak saran dokter untuk beralih ke insulin. Berbagai kekhawatiran dan pertanyaan muncul di benak saya:
"Saya ga berani nyuntik!"
"Nanti ketergantungan! Emang aman??"
"Pasti nanti repot!!"
"Insulin kan mahal, biayanya??"

Setelah berbagai drama kumbara yang saya lalui saat pertama terdiagnosa diabetes, akhirnya dengan segenap kekuatan yang tersisa (hehe lebay) saya memutuskan menggunakan insulin untuk mengontrol gula darah saya yang ga mau turun-turun itu. Bisa baca kisah awalnya disini Ketika Dokter Salah Mendiagnosa: Ternyata Diabetes!.  Allah SWT menjawab kekhawatiran saya atas harga insulin dapat dibaca disini Reimbursement, ASKES, dan BPJS.

Gambaran saya tentang suntik insulin itu seperti suntik imunisasi anak gitu, (ada suntikan berjarum panjang dan cairannya di botol terpisah) tapi ternyata saya salah! Ternyata designnya modern, jarumnya tipis dan kecil, tak perlu repot-repot membawa suntikan dan cairan terpisah, kalau pergi-pergi cukup taruh di tas atau di kantong pun bisa.  Jenis insulin yang pertama kali saya gunakan adalah NovoMix 30 FlexPen. Ini adalah jenis insulin campuran atau kerja menengah. Injeksi dilakukan 2x sehari, yaitu pagi dan malam hari sebelum makan.  Kurang lebih selama 2 tahun saya menggunakan insulin jenis ini.

Novomix 30 Flexpen
Source : NovoMix 30 Flexpen

Sayangnya, saya belum bisa mengelola diabetes dengan baik meskipun sudah melakukan terapi dengan jenis insulin NovoMix ini. HbA1c masih belum bisa mencapai nilai yang direkomendasikan. Masih berkisar di angka 9%, susyaaaahh banget untuk dpt nilai normal!  Saya akan hipo kalau terlewat makan snack pada jam 10 pagi, dan selanjutnya gula darah akan tinggi setelah makan siang. Meskipun gula darah belum terkontrol dengan baik, tapi ada sesuatu yang membuat saya melonjak kegirangan : berat badan saya berangsur-angur naik (salah satu efek samping insulin adalah berat badan bertambah)!!

Pernah juga dokter mengganti dengan jenis insulin kerja panjang (Levemir).  Ternyata saya makin kewalahan kontrol gula darahnya! Penyuntikkan dilakukan 1x sehari sebelum tidur, namun menjelang pagi saya akan hipo, lalu setelah makan siang hingga malam gula darah tinggi diatas normal.. hiks. Tak lama saya mencoba terapi dengan dosis dan jenis insulin seperti ini, kemudian dokter menggantinya kembali dengan NovoMix.
Levemir Flexpen
Source : Levemir FlexPen
Nah... kemudian barulah saya mengenal insulin basal bolus ketika saya pindah rawat jalan ke RSUP Fatmawati. Saya konsultasi dengan dr. Ida Ayu, Sp.PD, KEMD, dimana beliau adalah dokter endrokrin dewasa (beliau ini ahlinya tiroid dan diabetes).  Sejak saat itu, saya menggunakan insulin kerja cepat/pendek (NovoRapid) dan insulin kerja lambat/panjang (Levemir atau Lantus).  NovoRapid digunakan untuk mengendalikan gula darah setiap kali makan besar (sarapan, makan siang, dan makan malam). Sedangkan Lantus (atau Levemir keduanya sama-sama jenis insulin jangka panjang) digunakan untuk mengendalikan gula darah selama puasa, misalnya saat tidur atau ketika sedang tidak makan (karena hati di dalam tubuh juga menghasilkan gula). Jadi, 4x dalam sehari injeksi insulin dilakukan: 3x jenis kerja cepat dan 1x jenis kerja lambat.

Novorapid Flexpen untuk penyandang diabetes
Penampakan NovoRapid FlexPen

Novorapid dengan jarum novotwist
Saya menggunakan jarum Novotwist untuk pasangan Si Orange

Lantus solostar insulin jangka panjang
Lantus disuntikkan sehari sekali (kalau saya biasanya sore atau magrib)

Jarum BD Ultra-fine 4 mm jadi pasangan Lantus (yg merah2 di tutupnya itu tulisan JKN 😁)

Alhamdulillah... semenjak menggunakan insulin basal bolus, gula darah saya lebih terkontrol. HbA1c pun mencapai target,  dikasaran angka 6%, sesekali pernah juga di angka 5%-an tapi jaraaaang hehe. Bersyukur, bersyukur, lagi lagi bersyukur.

Lalu apa betul insulin ini menyebabkan ketergantungan?  Hmm... mungkin bukan 'ketergantungan' tetapi menambahkan sesuatu yang tidak mampu dihasilkan dalam jumlah yang cukup. Sepertinya lebih tepat menggunakan kata 'kebutuhan' daripada 'ketergantungan'.  Bukan hanya penyandang diabetes, tetapi setiap manusia yang hidup membutuhkan insulin. Ketika pankreas tidak mampu produksi insulin dalam jumlah yang cukup,maka diperlukan tambahan insulin dari luar (informasi ini pernah saya dapatkan dari sebuah seminar tentang diabetes). Untuk penyandang diabetes tipe 1, insulin memang mutlak diperlukan. Berbeda dengan penyandang diabetes tipe 2 yang memiliki beberapa pilihan untuk mengelola diabetes, bisa obat oral, injeksi insulin, berolahraga, dsb.

Yang paling penting dalam terapi insulin ini adalah manajemen diri. Dokter tidak bisa selalu setiap saat memantau kondisi kita (bagi yg penyandang DM yaa). Menjaga kadar gula darah adalah pekerjaan 24 jam sehari, tak peduli kita tidur sekalipun. Kunci utamanya ada di diri kita sendiri. Kita yang tau apa yang kita makan, bagaimana aktivitas fisik kita, olahraga yang kita lakukan, apakah ada stres, sakit, kapan masa-masa haid (khusus wanita), dsb.

Kadang-kadang berat memang kalau mengelola DM hanya untuk kepentingan diri sendiri (suka ga tega ngeliat es krim dan cokelat lumer kalau numpang lewat doang ga dicicip hehe), tetapi kalau didedikasikan pula untuk orang-orang tersayang.. Insya Allah mereka bisa membuat kita istiqomah mengelola DM. Sehat bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang yang kita sayang😍.

Rabu, 02 Agustus 2017

Pasca Keguguran : Tetap Semangat!!

Pasca Keguguran Penyandang Diabetes

Kehamilan yang telah kami nantikan sejak awal tahun 2017 ini akhirnya gugur di usia kandungan yang masih amat muda (5 minggu). Hari pertama setelah dinyatakan kandungan saya dalam proses keguguran (abortus spontan), darah segar terus keluar. Perut rasanya mulas seperti mau haid, tetapi kali ini lebih dahsyat.  Dokter yang menangani saya, dokter Valleria Sp.OG, menyarankan apabila tidak takut darah sebaiknya tak usah dikiret, biarkan saja keluar secara alami. Toh memang sudah dalam proses keluar alias keguguran ketika saya menemui beliau. Ini pertemuan pertama saya dengan dokter Valleria, dan ternyata konsultasi dengan beliau itu asyik dan saya puaass dengan penjelasan-penjelasannya. Beliau bahkan mengingatkan saya untuk tetap menjalankan sholat, karena keguguran yang saya alami ini tidak tergolong ke dalam nifas (terima kasih dok sudah mengingatkan!).

Senin, 10 Juli pukul 10 pagi, keluar darah segar.  Tiga hari sebelumnya memang sudah keluar bercak cokelat tua, namun pada hari keempat yang keluar sudah berupa darah merah.  Darah merah keluar terus dan semakin banyak hingga pada pukul 3 sore kantung kehamilannya keluar. Berhubung usia kandungan masih 5 minggu, yang keluar hanya berupa kantung kehamilan saja, belum ada janinnya. Kantung kehamilan ini warnanya bening dan kenyal jika dipegang, selain dari itu yg keluar adalah gumpalan-gumpalan darah.  Darah terus keluar dan semakin berkurang frekuensinya dari hari ke hari (seperti menstruasi). Hingga hampir 2 minggu barulah tak ada lagi darah keluar. Dokter Valleria memang menyarankan saya untuk kembali kontrol 2 minggu pasca keguguran, untuk mengecek apakah rahim sudah bersih kembali.

Tepat 2 minggu setelah keguguran, saya kembali menemui dr. Valleria untuk memastikan apakah rahim sudah bersih kembali. Pengecekan dilakukan dengan USG Transvaginal. Alhamdulillah, kata dokter sudah bersih, bahkan sudah bisa dibuahi seminggu lagi (kalau ingin segera hamil lagi 😁). Tapi saya jawab nanti dulu dok, mungkin kami rencanakan awal tahun depan. Saya dan suami memang sepakat untuk tidak terburu-buru merencanakan kehamilan lagi.  Sebagai penyandang diabetes, menjaga kadar gula darah agar dalam batas normal memang sudah menjadi rutinitas, tetapi pada saat merencanakan kehamilan, saya harus memastikan nilai HbA1c kurang dari 7%. Jadi paling tidak, saya harus mempersiapkannya 3-6 bulan sebelum program kehamilan. 

Meskipun saat ini saya belum mengecek HbA1c, tapi saya menduga nilainya diatas angka 7% (diatas angka normal) karena kadar gula darah yang semrawut selama hamil. Jadi... hamilnya ditunda dulu. Saya harus memperbaiki pola makan dulu dan berusaha untuk tidak lengah lagi mengontrol kadar gula darah. Kalau HbA1c-nya normal, saya menjadi lebih tenang untuk merencanakan kehamilan berikutnya.  

Sebenarnya, saya sudah cukup baik mempersiapkan kehamilan yang kedua ini. Beberapa bulan sebelum merencanakan hamil,  HbA1c berada diangka 6,5%. Artinya kadar gula darah saya selama kurun waktu 3 bulan terakhir cukup terkontrol dengan baik. Sayangnya, selama kehamilan saya kesulitan mengontrol kadar gula darah, sepertinya ini berkaitan dengan masalah hormonal, selain itu bawaan ibu hamil yang lapeeerrr terus namun sayangnya tidak diimbangi dengan insulin yang cukup. Bahkan hingga selepas keguguran, gula darah ibarat rollercoaster, naik turun tak terkendali.

Resiko keguguran pada penyandang diabetes memang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa diabetes. Tetapi, kalau diabetes mampu dikelola dengan baik dan angka HbA1c sesuai dengan yang direkomendasikan, tentu segala resiko bisa ditekan.  Alhamdulillah, pada kehamilan anak pertama, diabetes bisa terkelola baik dan anak kami lahir sehat sempurna. Keguguran pada kehamilan anak kami yang kedua ini biarlah menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mengingatkan saya untuk lebih intensif menjaga kadar gula darah kehamilan (dan juga mengingatkan bahwa saya ini bukanlah wonderwomen yang tak kenal lelah, jadi harus bisa mengatur waktu istirahat sebaik mungkin selama hamil😑). Daaann yang paling penting tetap semangat!!!! semangat jaga kadar gula darah, semangat momong anak, semangat sekolahnya (biar cepat selesai.. Aamiin), semangat jualannya (hehe).

Jumat, 28 Juli 2017

Berdamai dengan Diabetes

Berdamai dengan Diabetes

"Sepertinya mengarah ke diabetes mellitus, tapi nanti kita lihat dulu hasil laboratoriumnya ya" dokter menyampaikan diagnosanya kepada saya. Skema yang terbentuk di pikiran saya tentang diabetes bermunculan. Ayah saya meninggal akibat serangan jantung yang dipicu oleh diabetes, ada pula tetangga saya yang luka di kakinya tak sembuh-sembuh karena diabetes, pernah juga saya membaca kisah seorang ibu yang kakinya diamputasi karena diabetes. Saya bertanya-tanya dalam hati, "Apakah ini tandanya hidup saya tidak akan lama lagi? apa artinya saya tidak bisa hidup normal seperti teman-teman lainnya?"

Sedih, malu, khawatir rasanya bercampur aduk. Sedih karena kata dokter, diabetes belum bisa disembuhkan. Malu karena saya tak mau orang-orang tau kalau saya terkena diabetes. Khawatir karena saya tak tau apakah saya dan Ibu punya cukup uang untuk biaya pengobatannya dan apakah saya masih bisa makan es krim, pecel ayam (laahh???). Tapi setidaknya saya lega mengetahui apa yang terjadi pada diri saya. Saya belum siap mendengar komentar orang-orang, karena itu saya menyimpan ini sebagai rahasia (tapi tetep ajaaaa Si Mamah ga bisa diajak kompromi hehehe).

Selepas itu, banyak saran-saran datang ke kami untuk pengobatan diabetes, seperti brotowali, mahoni, daun kelor, dan entah apa lagi (karena urusan obat-obat tradisional ini Ibu saya yang urus, pokoknya saya tinggal minum, glek..glek..uweeek!! Pait!!). Pengobatan alternatif dengan terapi-terapi juga saya jalani. Mula-mula saya sangat bersemangat dan berharap bisa sembuh, tapi lama kelamaan saya merasa semuanya sia-sia karena gula darah tetap tinggi.  Sebenarnya kadang-kadang saya tak mau mencoba semua saran tetangga dan kerabat, tapi melihat Ibu saya begitu sungguh-sungguh dan berharap anaknya bisa sembuh, sebagai rasa hormat saya kepada Ibu, akhirnya saya jalani juga.

Kebetulan sekali, saat saya terdiagnosa diabetes, saya bekerja di kantor kas bank yang berada di dalam gedung Rumah Sakit Kanker Dharmais. Selama bekerja, saya bisa melihat orang-orang yang sedang diuji kesehatannya datang untuk berobat dengan berbagai kondisi. Saya bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada saya patut disyukuri.  Tak baik berlarut-larut menyesali keadaan. Bukankah Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya? Artinya, saya mampu melalui ini.

Saya masih ingat, sekitar 5 bulan setelah terdiagnosa, pikiran saya mulai terbuka. Saya datang ke Gramedia dan mencari buku-buku tentang diabetes.  Salah satu buku yang sangat berkesan adalah buku berjudul "Bersahabat dengan Diabetes" yang ditulis oleh Epie Suryono (yang kemudian saya dapat mengenal beliau secara langsung saat saya berobat rutin di RSUP Fatmawati).  Saya juga memutuskan untuk menjalani pengobatan dengan insulin, karena berbagai obat oral yang pernah saya konsumsi tidak banyak membantu menurunkan kadar gula darah saya.

Saya mulai berpikir, saya akan menjalani sisa hidup saya bersama diabetes. Saya tak mau merepotkan Ibu dan orang-orang yang saya sayangi dengan mengurus dan memikirkan saya apabila saya sakit-sakitan, jadi saya harus sehat! Saya akan berkeluarga, punya anak, mengurus suami dan anak (mungkin saat itu pikiran saya terlalu jauh, tapi yaa memang begitulah saya hehe) karena itu saya harus sehat! Daaan sehat itu tidak berarti harus sembuh, hidup sebagai penyandang diabetes pun bisa sehat dan melakukan aktivitas seperti orang tanpa diabetes. Kuncinya, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diabetes.


Ada beberapa hal yang saya coba tanyakan kepada diri sendiri :
"Apa yang saya inginkan dengan keadaan seperti ini?" saya ingin sembuh!
"Apa yang saya inginkan setelah sembuh?" saya ingin bahagia, bisa melakukan aktivitas apapun dan makan makanan yang saya suka (contoh: nasi uduk pecel ayam, eaaaa).
"Apa artinya kalau belum sembuh tidak akan bahagia?" Tidak dong, saya tidak ingin seperti itu.
Baiklah, kalau begitu saya langsung saja mencapai tujuan akhir, yaitu bahagia, meskipun belum bisa sembuh. Kuncinya, bersyukur. Tetap ikhtiar, tetap tawakal. Tiada yang tidak mungkin apabila Allah SWT telah berkehendak.

Akhirnya, saya berusaha keras untuk mengontrol gula darah.  Sebagai pemula, ini memang terasa sulit awalnya. Saya merasakan mengontrol kadar gula darah dengan insulin lebih efektif, dibandingkan dengan pengobatan-pengobatan sebelumnya yang sudah saya coba.  Gula darah saya bisa mencapai nilai normal. Wah, senangnya luar biasa! Tugas saya selanjutnya adalah menjaganya agar tetap normal.  Berat badan saya berangsur-angsur mulai naik. Saya mulai membiasakan diri berolahraga. Dan yang tidak kalah asyiknya, ternyata saya tetap bisa makan makanan kesukaan saya (tapi syarat dan ketentuan tetap berlaku yaaa). Ternyata saya tetap bisa beraktivitas seperti orang-orang tanpa diabetes. Bahkan orang-orang tak menyangka kalau saya ini penyandang diabetes. Jadilah, si diabetes yang tadinya nyebelin, eeehhh sekarang malah jadi sahabat asyik!!!


Pengalaman Menyusui pada Ibu Bekerja Penyandang Diabetes

Menyusui itu memang sebuah proses yang indah dan menyenangkan, namun penuh perjuangan. Bagi seorang working mother , tantangan untuk dapat ...